Advertisement
⚡ Baca Sampai Tuntas
Advertisement
Home » “Jumpa di Tengah”, dalam Perspektif Komunikasi Politik: Jalan Moderasi di Tengah Polarisasi

“Jumpa di Tengah”, dalam Perspektif Komunikasi Politik: Jalan Moderasi di Tengah Polarisasi

Pekanbaru (Khabarterkini.com) – Dalam dinamika politik modern, perbedaan pandangan bukanlah sesuatu yang dapat dihindari. Demokrasi justru hidup dari keberagaman gagasan, ideologi, dan kepentingan. Perbedaan adalah energi demokrasi, tetapi pada saat yang sama, ia juga berpotensi menjadi sumber konflik.

Namun, ketika perbedaan berkembang menjadi polarisasi ekstrem, ruang dialog menjadi sempit dan komunikasi politik berubah menjadi arena saling serang. Narasi publik dipenuhi dikotomi “AKU, “kami” dan “mereka”, sehingga rasionalitas sering kali kalah oleh emosi.

Di tengah situasi demikian, muncul istilah yang kerap digaungkan dalam praktik politik: “jumpa di tengah.” Istilah ini bukan sekadar ungkapan retoris, melainkan strategi komunikasi politik yang mengedepankan kompromi, moderasi, dan pencarian titik temu. Dalam perspektif komunikasi politik, “jumpa di tengah” menjadi pendekatan penting untuk menjaga stabilitas, membangun legitimasi, dan memperkuat kohesi sosial.

1.999 Dapur SPPG Ditutup, BGN Tegaskan Sertifikasi Higiene Sanitasi Jadi Syarat MBG

Kata kunci: komunikasi politik, kompromi, konsensus, moderasi, deliberasi, polarisasi, jalan tengah.

Kerangka Teoretis

Secara akademik, konsep “jumpa di tengah” memiliki pijakan teoritis yang kuat.

PAC PDI-P Dumai Selatan Matangkan Persiapan Ranting dan Program Kerja, Bakti Sosial Jadi Agenda Perdana

Pertama, Jürgen Habermas melalui teori komunikasi deliberatif menekankan pentingnya ruang publik (public sphere) sebagai arena dialog rasional. Dalam pandangannya, keputusan politik yang ideal lahir dari diskusi yang argumentatif, terbuka, dan bebas dominasi. “Jumpa di tengah” selaras dengan prinsip ini karena menuntut konsensus rasional, bukan kemenangan sepihak.

Kedua, Aristoteles dalam konsep golden mean atau jalan tengah menegaskan bahwa kebajikan terletak di antara dua ekstrem. Dalam konteks politik, moderasi bukanlah kelemahan, melainkan kebijaksanaan dalam menimbang berbagai kepentingan yang berbeda.

12 Cara Meraih Kesuksesan Menurut Para Pakar dan Buku Pengembangan Diri

Ketiga, dalam teori negosiasi politik modern, kompromi dipandang sebagai instrumen penting dalam demokrasi plural. Giovanni Sartori menekankan bahwa stabilitas demokrasi sangat bergantung pada kemampuan elite politik untuk berkompromi tanpa merusak sistem.

Dengan demikian, “jumpa di tengah” bukan sekadar pilihan pragmatis, tetapi memiliki landasan filosofis dan teoretis dalam tradisi pemikiran politik.

Praktik dan Tantangan

Dalam praktik komunikasi politik, “jumpa di tengah” dimaknai sebagai strategi membangun pesan yang inklusif dan tidak konfrontatif.

Fatahuddin, SH, Direktur Eksekutif Trust Institute, Pertanyakan Pinjaman Pemko Dumai ke BSRK

Pertama, dalam pembahasan kebijakan publik.

Perbedaan antara pemerintah dan oposisi dalam membahas rancangan undang-undang sering kali berujung kebuntuan. Komunikasi yang mengarah pada kompromi memungkinkan lahirnya kebijakan yang dapat diterima bersama tanpa mengorbankan stabilitas politik.

Kedua, dalam menjaga stabilitas sosial.

Di era media sosial, narasi politik kerap diperkuat oleh sentimen emosional. Pendekatan “jumpa di tengah” berfungsi meredam ketegangan serta mengarahkan publik pada kepentingan bersama dan persatuan nasional.

Ketiga, dalam membangun citra kepemimpinan.

Pemimpin yang mampu menjadi jembatan antara kelompok yang bertentangan biasanya dipersepsikan sebagai negarawan. Ia tidak sekadar mewakili satu golongan, melainkan memosisikan diri sebagai pengayom seluruh elemen bangsa.

Meski demikian, pendekatan ini juga menuai kritik. Sebagian pihak menilai bahwa terlalu sering “bertemu di tengah” dapat menimbulkan kesan pragmatis atau kehilangan ketegasan ideologis. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara prinsip dan kompromi.

Dalam konteks inilah pesan politik seperti:

“Mari kita tidak terjebak pada perbedaan ekstrem. Kita bisa jumpa di tengah demi kepentingan bangsa.”

menjadi refleksi komunikasi yang menenangkan dan berorientasi pada kepentingan kolektif.

Penutup

“Jumpa di tengah” dalam perspektif komunikasi politik bukanlah sekadar retorika moderasi, melainkan strategi penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Ia mengandung nilai dialog, kompromi, dan rasionalitas publik.

Dalam masyarakat yang plural dan dinamis, kemampuan untuk bertemu di titik tengah adalah tanda kedewasaan politik. Bukan berarti menghapus perbedaan, tetapi mengelolanya secara bijak demi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

Penulis: Hasan Basri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TOP NEWS

01

PAC PDI-P Dumai Selatan Matangkan Persiapan Ranting dan Program Kerja, Bakti Sosial Jadi Agenda Perdana

02

Polda Riau Bongkar Dugaan Pembukaan Lahan Ilegal 111,77 Hektare di Dumai

03

Banjir Melanda Dumai, Pintu Air Tertutup, Ferdiansyah Minta Segera Dibuka

04

Bupati Pidie Jaya Tanam Pohon untuk Pulihkan Lingkungan Pasca Bencana

05

Menciptakan Kota Bebas Kemacetan: Pembangunan Kereta Bawah Tanah sebagai Solusi

LINGKUNGAN

Memuat postingan...

Peristiwa

Memuat Peristiwa...

TECHNOLOGY

Memuat Technology...

OPINI

Memuat Opini...

LIBURAN

Memuat Liburan...

PILIHAN REDAKSI






KALENDER

Februari 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
× Advertisement
× Advertisement